Di tanah Boalemo, emas bukan sekadar kilau. Ia bukan simbol kemewahan, bukan pula cerita tentang kekayaan. Bagi sebagian orang mungkin iya, tapi bagi kami—masyarakat kecil—emas adalah nafas terakhir yang tersisa.
Setiap hari, ada tubuh-tubuh lelah yang turun ke lubang tambang, dengan tangan kosong dan harapan yang tak seberapa. Mereka bukan pencuri. Mereka bukan perusak. Mereka hanya manusia yang ingin hidup.
Di rumah-rumah sederhana, ada anak-anak yang menunggu ayahnya pulang dengan sedikit hasil, sekadar untuk membeli beras. Ada ibu-ibu yang berdoa dalam diam, berharap hari itu cukup untuk bertahan esok. Tidak ada yang berlebihan. Tidak ada yang mewah. Yang ada hanya perjuangan untuk tidak kelaparan.
Lalu kebijakan datang.
Akses ditutup. Aktivitas dihentikan. Suara rakyat tenggelam oleh aturan. Mungkin di atas kertas itu benar. Mungkin itu demi hukum, demi lingkungan, demi prosedur. Tapi pernahkah sejenak pemerintah berhenti… dan bertanya:
Kalau ini dihentikan, kami harus hidup dari mana?
Kami tidak menolak aturan. Kami tidak menolak negara. Tapi kami ingin dimengerti. Karena bagi kami, setiap butiran emas itu adalah uang sekolah anak, adalah obat untuk orang tua, adalah harapan agar dapur tetap menyala.
Ketika tambang ditutup tanpa jalan keluar, yang mati bukan hanya aktivitasnya—
tapi juga perlahan harapan kami.
Tangisan itu nyata, meski sering tak terdengar.
Luka itu dalam, meski tak terlihat.
Kami tidak minta dimanjakan. Kami hanya ingin diberi ruang untuk hidup.
Karena di Boalemo, setiap butiran emas bukan soal kaya atau miskin—
tapi soal bertahan atau menyerah.
Dan jika itu pun diambil,
lalu kami harus bernafas dengan apa?











