Berita  

Opini: Ketika Pengusaha Kuliner Lokal Dikorbankan Atas Nama Kegiatan

GORONTALO-Di balik ramainya kegiatan organisasi dan proyek seremonial di Gorontalo, ada cerita pahit yang jarang terdengar. Pengusaha kuliner lokal yang selama ini menjadi penopang utama berbagai agenda, kini justru satu per satu terancam gulung tikar. Bukan karena sepi pelanggan, melainkan karena modal yang mereka keluarkan tak kunjung kembali.

Puluhan juta rupiah digelontorkan demi kelancaran kegiatan. Makanan disiapkan, tenaga dikerahkan, kepercayaan diberikan. Namun setelah acara usai, yang tersisa hanyalah janji. Janji pembayaran yang tak pernah ditepati.

“Modal kami habis, keuntungan nihil. Kami hanya dimanfaatkan,” ungkap seorang pengusaha kuliner yang meminta identitasnya dirahasiakan.

Lebih menyakitkan, praktik ini kerap dibungkus dengan dalih kerja sama, solidaritas, bahkan kedekatan emosional. Pengusaha kecil didorong untuk percaya, sementara komitmen pembayaran justru diabaikan. Ketika ditagih, alasan silih berganti. Ketika ditekan, pengusaha disudutkan.

Ini bukan sekadar persoalan utang-piutang, melainkan bentuk ketidakadilan sistemik yang dibiarkan berulang. Jika pengusaha kuliner lokal terus dijadikan “sapi perah” demi melancarkan agenda tertentu, maka yang hancur bukan hanya usaha, tetapi juga kepercayaan.

Sudah saatnya ada keberanian untuk membuka praktik ini ke ruang publik. Pemerintah daerah, organisasi, dan pihak terkait tidak boleh tutup mata. Tanpa kepastian pembayaran dan etika kerja sama, pengusaha kuliner lokal hanya akan terus menjadi korban, sementara pihak lain menikmati hasilnya tanpa tanggung jawab.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *